Bumi Manusia, buku yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer ini pertama kali diterbitkan tahun 1980. Empat puluh tahun lalu tapi kehebatan buku ini belum hilang sampai tulisan ini ditulis, menurutku. Ditambah lagi pada tahun 2019 buku ini difilmkan dengan judul yang sama, membuat Bumi Manusia semakin sulit untuk dilupakan.
Buku ini seolah mengajarkan semuanya; sejarah, kehidupan bermasyarakat, pendidikan, cinta, politik, dan lain-lain yang bikin semua orang lupa, kalau buku ini sebenarnya buku fiksi! Iya fiksi, fiksi sejarah tepatnya, masa kolonial Belanda. Seseorang yang merasa mual ketika disuruh membaca buku sejarah agaknya malah mencintai buku ini.
Aku pribadi rasanya sedikit insecure saat membaca buku ini. Di usia Minke yang kuperkirakan di akhir belasan, dia memiliki kemampuan yang, yang, yang, luar biasa dan yang kuharapkan tumbuh di dalam diriku. Karakter Minke diceritakan sebagai pemuda yang cerdas, mampu berbahasa Belanda dengan baik, cakap dalam berkomunikasi, ahli bernegosiasi, dan lain-lain yang jika kusebutkan malah membuat ke-insecure-anku terulang. Pram berhasil menggambarkan Minke menjadi sosok pemuda yang terpelajar.
<<|>>
aku lebih mempercayai ilmu pengetahuan, akal. setidak-tidaknya padanya ada kepastian-kepastian yang bisa dipegangYa, tentu saja, jadi apa kita di dunia tanpa ilmu pengetahuan. Dan tentu itu yang membedakan kita dengan hewan, akal (pelajaran yang kudapat sejak sekolah dasar, sepertinya kalian pun sama).
cinta itu indah, minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek iniPelajaran lain yang bisa didapat dari buku ini: cinta. Aku sendiri pun pernah merasakan ini, setidaknya satu kali sampai hari ini. Kalau tidak salah ingat Jean Marais mengatakan kalimat tersebut saat Minke menceritakan tentang seorang Annelies (silakan katakan kalau salah, aku benar-benar lupa), yang artinya konteks cinta yang dimaksud Jean adalah cinta yang berasal dari orang lain, orang asing yang kemudian menjadi orang yang paling kita cintai. Jangan sebut aku sok tahu, aku pernah merasakannya.
cinta itu indah, minke, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. orang harus berani menghadapi akibatnyaSelalu seperti itu. Cinta pada akhirnya bisa membinasakan kita hingga ke tulang. Karena tidak selamanya cinta akan diikuti oleh perasaan senang dan bahagia. Seorang kenalanku pernah berkata, "Jangan berlebihan ketika mencinta manusia, takutnya manusia yang sangat kamu cintai hari ini akan jadi manusia yang sangat kamu benci di kemudian hari. Cintai manusia sewajarnya, karena cintamu butuh porsi untuk dirimu sendiri." Entah apa yang merasukinya, mengingat kenalanku ini bukan orang yang jago-jago amat urusan cinta. "Makanya, kalau belum siap merasakan sakit karena cinta lebih baik jangan jatuh cinta dulu," tambahnya.
melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaanAku sedikit kebingungan pada bagian ini, karena sudah jelas maksudnya dan tidak butuh penjelasan lain, 'kan? Aku tahu kalian paham.
kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasilah kau; anggap semua pelajaran mudah, dan semua akan jadi mudah; jangan takut pada pelajaran apa pun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semuaInilah yang kadang membunuh diri kita sendiri: persepsi, mindset. Belum apa-apa sudah takut salah, takut gagal. Tidak masalah saat percobaan pertama kita tidak memuaskan, itu wajar, justru aneh saat percobaan pertamamu memuaskan. Lalu apalagi yang mau dikejar kalau yang pertama saja sudah membuatmu puas? Jangan jadi bodoh karena takut gagal, justru dia yang bodoh lah yang enggan untuk memulai.
aku tahu tuan menyembunyikan sesuatu. terpelajar pasti punya pendapat, biarpun keliru. ayoh, katakanMengemukakan pendapat, yang juga masih sulit untukku yang kecil ini, terutama di depan umum. Bukan karena takut dengan omongan orang--itu pun benar, sih-- tapi rasanya sebelum mengemukakan pendapat, kita pun harus mengerti ilmu yang melatarbelakangi pendapat tersebut. Aku bukan takut keliru, aku takut salah, takut hanya sekedar meramaikan atau sekedar menyambung pembicaraan. Setelah itu lawan bicaraku mungkin akan berkata, "Sia-sialah waktuku berbicara dengan orang ini, hanya asal bunyi seperti beo."
baik annelies maupun mama tidak menghendaki sesuatu mas kawin. apa yang kami harapkan? kata mama, annelies telah mendapatkan segala dari calon suaminya. kalau toh diharuskan ada mas kawin, kata annelies, ialah sesuatu yang belum kudapatkan dari dia: janji setia selama hidupku. dan aku telah memberikannya pada akad nikahDi mana dapat kutemui wanita seperti Annelies di dunia yang fana ini. Agaknya hanya ada di buku fiksi, mungkin hanya di Bumi Manusia lah manusia seperti Annelies hidup. Kabari aku secepatnya jika Annelies versi bumi ada.
<<|>>
Salam,
9 September 2020

Komentar
Posting Komentar
Beri saya rekomendasi!